Perkembangan Film Indonesia Dari Masa Ke Masa

Awal masuk dunia film Indonesia adalah pada 5 desember 1900 di Batavia (Jakarta). Di masa penjajahan Belanda, lebih dikenal dengan nama gambar hidoep. Pada tahun 1926 Indonesia pertama kalinya melahirkan film dengan judul Loetoeng Kasarung yang diangkat dari legenda sunda dan diproduksi oleh dua orang Belanda, L. Heuveldorp dan G. Kruger. Produksi film Indonesia mengalami perkembangan pesat dari masa ke masa, ditandai dengan munculnya 21 judul film yang diproduksi dari tahun 1926-1931 dan juga berdirinya 227 bioskop di seluruh Indonesia. Para tokoh dibidang perfilman yang di pelopori Djamaludin malik saat itu, menggagas untuk membentuk Festifal Film Indonesia atau FFI.

Pada era 1960-an perfilman Indonesia sempat mengalami masa kelesuan dan kemunduran. Dikarenakan kondisi politik yang memanas, membuat ruang gerak seniman film terbatas. Tetapi Menteri Penerangan pada masa itu, Budiharjo mengeluarkan surat keputusan peraturan yang berisikan mengenai kebebasan berekspresi dalam seni. Film Indonesia mengalami perkembangan kembali setelah dikeluarkan peraturan tersebut, bahkan film asing yang akan tayang di Indonesia, diwajibkan menyerahkan dana guna sebagai bentuk kewajiban dalam mendukung perfilman Indonesia. Pada era 1980-an lahir film karya anak bangsa yang merajai bioskop-bioskop lokal, yang sempat terkenal saat itu antara lain, Catatan si boy, Blok M, dll. Pada Era 1990-an kembali dunia perfilman Indonesia mengalami masa suram, hal ini disebabkan maraknya sinetron di televisi-televisi swasta dan hampir semua film berkutat dalam tema-tema yang khusus orang dewasa dengan adegan panas. Film Indonesia tersingkir dari bioskop-bioskop saat itu dan digantikan dengan film-film dari Amerika (Hollywood), hongkong, dll.


Terpuruknya film Indonesia berakhir pada tahun 2000 dengan munculnya film Petualangan Sherina, film drama musikal karya Riri Riza dan Mira Lesmana, menjadi tonggak kebangkitan kembali perfilman di tanah air kita Indonesia. Setelah film Petualangan Sherina muncul begitu banyak film hasil karya anak bansa seperti Jelangkung, Ada Apa Dengan Cinta,dll. Selain film komersil, perfilman Indonesia juga melahirkan karya film non komersil yang berhasil meraih penghargaan Internasional Film Pasir Berbisik,Daun di Atas Bantal,dll. Indonesia mampu melahirkan film yang berkualitas Internasional seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpin dll. Perfilman di tanah air perlahan tapi pasti mampu mengembalikan kejayaannya dan bersaing dengan perfilman Internasional.

Posted on Tags